Apa Saja Sih Syarat Hewan Qurban? Ini Penjelasannya

Ibadah qurban merupakan salah satu media untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Setiap ibadah dalam agama Islam, termasuk menyembelih hewan qurban saat Idul Adha, dianggap sah jika telah terpenuhi syarat-syaratnya. Dalam syariat Islam, terdapat dua syarat yang harus terpenuhi agar ibadah qurban dapat diterima dan dianggap sah hukumnya.

Ibadah qurban sendiri hukumnya sunnah muakkad atau amat ditekankan karena keutamaannya yang besar dalam agama Islam. Keutamaan berqurban tersebut dijelaskan secara jelas dalam hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang memiliki kelapangan (harta), sedangkan Ia tak berqurban, janganlah dekat-dekat dengan tempat shalat kami,” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim)

Sementara itu, anjuran untuk berqurban pun tertuang di firman Allah SWT dalam surah Al-Kautsar ayat 2: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).” (QS. Al-Kautsar: 2)

Pelaksanaan kurban sudah diatur secara jelas di dalam Islam. Tidak semua hewan dapat dijadikan qurban, dan harus memenuhi syarat tertentu. Apa saja syarat-syarat sah hewan kurban yang harus dipenuhi?

Dari sejumlah sumber, terdapat sejumlah syarat sah hewan qurban. Syarat pertama, hewan qurban mestilah hewan ternak: unta, sapi, kambing, atau domba.

Selain hewan-hewan ternak itu, tidak bisa dijadikan sebagai hewan qurban. Termasuk didalamnya binatang misalnya unggas, tidak bisa dijadikan hewan qurban. Oleh karena itu, ayam, angsa, bebek, burung, dan hewan halal selain yang disebutkan di atas tidak bisa dikategorikan sebagai hewan kurban. Rujukannya adalah firman Allah SWT dalam surah Al-Hajj ayat 34:

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan [kurban], supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka,” (QS. Al-Hajj [22]: 34).

Syarat kedua, hewan ternak yang akan diqurbankan haruslah mencapai usia minimal yang sudah diatur syariat Islam, sebagai berikut:

  1. Unta minimal berumur 5 tahun dan telah masuk tahun ke 6
  2. Sapi atau kerbau minimal berumur 2 tahun dan telah masuk tahun ke 3
  3. Kambing jenis domba atau biri-biri berumur 1 tahun kambing jenis domba bisa berumur 6 bulan jika yang berusia 1 tahun sulit ditemukan
  4. Kambing biasa (bukan domba/biri-biri) minimal usia 1 tahun dan telah masuk tahun ke 2

Berdasarkan syarat di atas, maka tidak sah berkurban menggunakan kambing, domba, unta, sapi ataupun kerbau jika belum mencapai kriteria usia minimal yang sudah ditetapkan. Selain itu, jika usia hewan ternak itu sudah melebihi batas usia minimalnya, sebaiknya tidak juga terlalu tua umurnya. Sebab, hewan yang terlalu tua dagingnya sudah keras dan tidak lagi empuk saat dikonsumsi.

Syarat ketiga, adalah hewan tidak dalam kondisi yang menyebabkannya tidak sah menjadi kurban. Mengutip penjelasan dari berbagai sumber, ada sejumlah jenis kondisi yang menyebabkan hewan, seperti sapi, kerbau, unta, kambing atau domba tidak sah menjadi kurban, yakni:

 

  • Hewan buta salah satu matanya
  • Hewan pincang salah satu kakinya
  • Hewan sakit yang tampak jelas sehingga kurus dan dagingnya rusak
  • Hewan sangat kurus 
  • Hewan yang terputus sebagian atau seluruh telinganya
  • Hewan yang terputus sebagian atau seluruh ekornya.
  • Hewan yang memiliki kondisi seperti di atas tidak sah menjadi hewan kurban.

    Meski begitu, hewan yang pecah atau patah tanduknya, maupun tak punya tanduk, tetap sah dijadikan hewan kurban.

 

Selain syarat-syarat itu, yang perlu diperhatikan juga adalah waktu penyembelihan hewan kurban. Hewan kurban disembelih pada waktu Idul Adha, atau 10 Dzulhijjah, yakni mulai kira-kira setelah lewatnya waktu yang cukup untuk shalat dua rakaat dan dua khutbah yang terhitung sejak matahari terbit. Waktu penyembelihan hewan kurban ini berlangsung hingga matahari terbenam pada hari tasyriq yang terakhir, yakni 13 Dzulhijjah.

 

Syarat hewan qurban harus jantan?

Terkait hal ini secara eksplisit tidak dijelaskan dalam suatu nash, baik Al-Qur’an maupun hadist terkait pilihan dan keutamaan jenis kelamin hewan kurban. Namun para ulama mengqiyaskan kasus jenis kelamin hewan kurban ini dengan hewan untuk aqiqah.

Menurut Imam An-Nawawi dalam Al-Majmū’ Syarḥ al-Muhadzzab, jenis kelamin hewan qurban dianalogikan dengan hadist yang menjelaskan kebolehan untuk memilih jenis kelamin jantan maupun betina.

“Dan diperbolehkan dalam berqurban dengan hewan jantan maupun betina. Sebagaimana mengacu pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Kuraz dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau pernah bersabda “(aqiqah) untuk anak laki-laki adalah dua kambing dan untuk perempuan satu kambing. Baik berjenis kelamin jantan atau betina, tidak masalah.” (Sumber kitab: An-Nawawi, al-Majmū’ Syarḥ Muhazzab, 392)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *