Pentingnya Silaturahim dalam Agama Islam

Silaturahim menjadi penghung jalinan dan penguat persaudaraan seorang muslim.

Saudaraku, silaturahim memiliki arti kasih sayang terhadap sesama dan meluas. Oleh karena itu, silaturahim dapat menyempurnakan kebutuhan manusia akan interaksi sosial di antara sesama mereka.

Didalam sebuah hadits Rasulullah menerangkan, “Beribadahlah pada Allah SWT dengan sempurna jangan syirik, dirikanlah sholat, tunaikan zakat, dan jalinlah silaturahim dengan orang tua dan saudara.” (HR Bukhari).

Dalam salah sebuah haditsnya, Rasulullah SAW juga menjelaskan yang dimaksud silaturahmi yakni, “Silaturahmi bukanlah yang saling membalas kebaikan. Tetapi seorang yang berusaha menjalin hubungan baik meski lingkungan terdekat merusak hubungan persaudaraan dengan dirinya.” (HR. Al-Bukhari).

Seperti yang diketahui, silaturahim itu memiliki banyak sekali manfaat bagi orang yang melakukannya, salah satunya dapat mengantarkan orang yang melakukannya menuju surga dengan selamat.

Terlebih lagi kita hidup di tengah zaman yang sudah sedemikian canggih dan maju. Berbagai moda transportasi sudah ditemukan dan semakin dikembangkan. Demikian halnya dengan alat-alat komunikasi yang kian hari kian canggih saja.

Berbagai moda transportasi dan alat-alat komunikasi sebenarnya bisa semakin memberi kemudahan untuk kita menjalin silaturahim dengan teman, sahabat, saudara dan karib kerabat tanpa terhalang jarak, waktu dan kondisi alam.

Perkembangan teknologi transportasi dan komunikasi ini benar-benar sudah membantah kesulitan kita untuk menyambung jalinan tali silaturahim. Sudah semestinya, kita tetap menjaga silaturrahim dan semakin giat menjalin dan memperkuat silaturahim kita dengan saudara-saudara kita. Apalagi Allah SWT. menjanjikan ganjaran kebaikan yang besar bagi kita yang melakukannya.

Diantara manfaat dari silaturahim, Rasulullah SAW. bersabda, “Barang siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.” (HR. Bukhari).

Barangkali kita sempat bertanya-tanya, bagaimana mungkin ajal bisa diakhirkan, atau bagaimana mungkin umur seseorang bisa ditambahkan. Bukankah ajal telah ditetapkan dan tidak dapat bertambah dan berkurang sebagaimana firman-Nya,

“Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. al-A’raf: 34).

Para ulama memberikan penjelasan tentang masalah ini. Di antaranya, yang dimaksud dengan tambahan disini, yaitu tambahan berkah dalam umur. Kemudahan melakukan ketaatan dan menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat baginya di akhirat, serta terjaga dari kesia-siaan.

Berkaitan dengan ilmu yang ada pada malaikat yang terdapat di Lauh Mahfudz dan semisalnya. Umpama usia si fulan tertulis dalam Lauh Mahfuzh berumur 60 tahun. Akan tetapi jika dia menyambung silaturahim, maka akan mendapatkan tambahan 40 tahun, dan Allah telah mengetahui apa yang akan terjadi padanya (apakah ia akan menyambung silaturahim ataukah tidak).

Inilah makna firman-Nya, “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).” (QS. ar-Ra’d: 39).

Akhirnya, hal terpenting yang wajib kita jadikan jalan keluar dari perbedaan makna memanjangkan umur baik bermakna hakikat ataupun majazi (kiasan) ini, yaitu memperpanjang umur tersebut dengan menggunakan dan menghabiskannya untuk mendapatkan tambahan kebaikan. Adapun seseorang yang panjang umurnya tetapi jelek amalannya, maka ia termasuk orang-orang yang merugi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *