Sejarah Zakat Lengkap, Golongan Penerima dan Keutamaan di Dalamnya

Zakat yang dihimpun dapat disalurkan kepada sesama yang membutuhkan bantuan termasuk kepada kaum dhuafa.

Zakat adalah salah satu rukun yang bercorak sosial ekonomi dari kelima rukun islam. Melakukannya termasuk wajib dan bernilai ibadah dimata Allah Ta’ala, dengan zakat memiliki ikrar tauhid dan selalu bersamaan dengan perintah shalat. Untuk itu, barulah seorang dikatakan secara sah masuk kedalam barisan umat islam dan diakui kedermawannya.

Sedangkan menurut istilah, zakat ialah kewajiban mengeluarkan harta tertentu bagi seorang muslim yang telah mampu dan mencapai nisabnya, serta diberikan kepada golongan yang berhak menerima atau mustahik (8 asnaf zakat).

Zakat sendiri dipandang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ibadah shalat. Sesungguhnya merupakan bagian sistem ekonomi sosial kemasyarakatan yang berefek kepada maslahat untuk sesama. Oleh karena itu, pembahasannya dibahas dalam buku tentang strategi hukum dan ekonomi syariah.

Kita bagi tiga Fase sejarah zakat mulai berlaku pada umat islam Fase pertama, perintah zakat telah ada dari semenjak masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masih di Makkah. Hanya saja, belum ada ketentuan spesifik terkait dengan waktu dan kadar zakatnya. Perintah tersebut pada awalnya masih sekedar sebagai anjuran.

Fase Kedua, Fase zakat fitrah atau Shadaqathul fitrah (zakat memberi makan) yang diperintahkan pada tahun kedua hijriyah setelah perintah puasa. Hal ini berdasarkan pada hadits, “Rasulullah saw memerintahkan kepada kami untuk mengeluarkan shadaqatul fithr (zakat fitrah) sebelum perintah zakat (zakat harta). “ (HR Nasa’i)

Fase Ketiga, perintah zakat harta sebagai penambah zakat fitrah yang telah diperintahkan sebelumnya. Sebagian ulama berpendapat bahwa perintah ini juga pada tahun kedua hijriyah.

Dari penjelasan diatas dapat memberikan pengetahuan tentang sejarah zakat. Sedangkan zakat itu sendiri diperuntukkan bagi delapan golongan yaitu:

1. Fakir (Yaitu orang yang tidak memiliki penghasilan sehingga jarang bisa memenuhi kebutuhan hidup).

2. Miskin (Mereka yang penghasilannya sehari-hari hanya cukup untuk memenuhi makan, minum dan tak lebih dari itu).

3. Amil (Ialah perseorangan atau lembaga mengurus zakat mulai dari penerimaan zakat hingga menyalurkannya kepada orang yang membutuhkan).

4. Muallaf (Orang yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menguatkan dalam tauhid dan syariah).

5. Riqab (Di zaman dahulu, zakat inilah digunakan untuk membayar atau menebus para budak agar mereka dimerdekakan).

6. Gharim (Orang yang memiliki hutang atau tunggakan).

7. Fisabilillah (Segala sesuatu yang bertujuan untuk kepentingan di jalan Allah)

8. Ibnu sabil (Seseorang yang sedang melakukan perjalanan jauh dan para pelajar yang ada diperantauan)

Seperti yang kita ketahui, bahwa zakat memiliki banyak keutamaan dan makna yang terkandung didalamnya. Seorang mukmin jika mengeluarkan akan mendatangkan banyak kebaikan dan keberkahan dalam hidupnya. Sangat penting seseorang mengetahui makna dan hikmah zakat itu sendiri, yakni:

1. At-thohuru, artinya membersihkan atau menyucikan. Makna ini menegaskan bahwa orang yang selalu menunaikan zakat ikhlas karena Allah ta’ala semata, Allah akan membersihkan dan menyucikan baik harta dan jiwanya.

2. Al-Barakatu, artinya dilipatkan keberkahan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Makna ini menegaskan bahwa orang yang selalu membayar zakat, hartanya akan selalu dilimpahhkan keberkahan oleh Allah ta’ala, kemudian keberkahan harta ini akan berdampak kepada keberkahan hidup.

3. An-Numuw, artinya tumbuh dan berkembang. Makna ini menegaskan bahwa orang yang selalu menunaikan zakat, hartanya (dengan izin Allah) akan terus tumbuh dan berkembang.

4. As-Sholahu, artinya beres atau keberkahan. Maknanya yaitu bahwa orang yang selalu menunaikan zakat, hartanya akan selalu beres dan jauh dari masalah.

Jika setiap orang menyadari bahwa betapa pentingnya menunaikan kewajiban zakat, maka setiap orang yang kurang mampu atau mustahik zakat akan dapat dibantu dan merasakan manfaat dari kebaikan zakat yang dikeluarkan muzakki. Sehingga hal ini akan menjadi sinergi yang baik antara yang pemberi dan penerima kebaikan zakat ini.

Sebagai kesimpulan, Menurut penjelasan Sayid Sabiq menerangkan bahwa zakat pada permulaan Islam diwajibkan secara mutlak. Kewajiban zakat ini tidak dibatasi harta yang diwajibkan untuk dizakati dan ketentuan kadar zakatnya. Semua itu diserahkan pada kesadaran dan kemurahan kaum Muslimin. Akan tetapi, mulai tahun kedua setelah hijrah, menurut keterangan yang masyhur ditetapkan besar dan jumlah setiap jenis harta serta dijelaskan secara terperinci.

Sudah semestinya seorang muslim untuk memberikan dan menunaikan hak dalam harta yakni berzakat. Sebab didalam harta beda yang dimiliki seorang muslim, ada hak milik orang lain (fakir, miskin) yang harus dikeluarkan untuk membantu saudara lainnya. Sehingga prinsip saling membantu dan gotong royong ini dapat mengantarkan umat islam ke depan pintu gerbang kemakmuran, sejahtera dan mandiri.

Bersihkan harta, tenangkan jiwa: Zakat sekarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *